Skip to content

Posts tagged ‘refugees’

COVID-19 Information for Refugees in Indonesia

(This article will be updated continuously to reflect current situation)

The situation with Coronavirus, known also as SARS-CoV-2 or COVID-19, in Indonesia is escalating very quickly.

The government already issue nationwide awareness for prevention and mitigation. WHO also already declared this case as a pandemic earlier today. Calling COVID-19 a pandemic does not mean that it has become more deadly, it is an acknowledgment of its global spread.

SUAKA asks the refugee community not to be panic. The virus transmission is preventable and can be managed through practicing personal hygiene, such as hand-washing, avoid face-touching, and follow good cough and sneeze etiquette. If you develop symptoms, and have been in close contact with a person known to have COVID-19, you should go to the doctor.

Don’t believe hoaxes on the internet, always double-check news or chain text messages shared on social media or messaging application (whatsapp/line/viber etc) THROUGH a reliable news source.

Read more

Rilis Pers SUAKA: Reputasi Indonesia Di Ambang Batas

Unduh rilis pers SUAKA, klik di sini.

Jakarta, Indonesia –Sebuah kapal yang mengangkut empat puluh empat penumpang terapung-apung di perairan Lhoknga, Aceh Besar. Perahu ini bernomor registrasi TN-1-FV-00455.09, yang menurut BBC India, mengisyaratkan bahwa kapal ini berasal dari daerah Tamil Nadu, India.

Kapal ini merupakan kapal yang mengangkut pengungsi etnis Tamil asal Sri Lanka. Sementara itu, tujuan asli para pengungsi ini adalah Pulau Christmas, Australia. Kapal yang mereka tumpangi terpaksa harus berhenti di Lhoknga karena kerusakan pada mesin kapal dan habisnya bahan bakar untuk melanjutkan perjalanan. Meskipun pada kesempatan pertama kapal berhasil dilayarkan dengan bantuan pemerintah dan warga setempat, namun nahas, kapal tersebut kembali mengalami kerusakan dan terdampar di titik yang sama.

‘SUAKA mengapresiasi tindakan yang diambil baik pemerintah pusat maupun daerah yang akhirnya mengijinkan perahu itu merapat ke daratan,’ ujar Febi Yonesta, Ketua SUAKA.

Sebelumnya, perahu tersebut sempat ditolak untuk merapat oleh pemerintah setempat melalui Komandan Rayon Militer (Danramil) Lhoknga Darul Amin. Ia mengatakan bahwa para pengungsi ini tidak diijinkan untuk merapat ke daratan serta ditutup akses untuk ditemui oleh orang lain.

‘SUAKA memperoleh informasi dari lapangan bahwa kondisi mereka sangat perlu untuk diperhatikan,’ lanjutnya. Ia kemudian mengatakan bahwa satu dari para pengungsi tersebut adalah ibu hamil dan sembilan diantaranya adalah anak-anak. ‘Tentunya dua kelompok ini harus diperhatikan dengan seksama, jangan sampai Indonesia melanggar HAM karena membiarkan mereka terapung-apung tanpa perawatan,’ lanjutnya.

SUAKA juga memperhatikan pentingnya akses seluas-luasnya kepada UNHCR untuk dapat mewawancara langsung para pengungsi ini, karena fungsi UNHCR dapat membantu otoritas untuk melegitimasi keberadaan mereka.

Melihat kembali respon positif pemerintah pada gelombang besar pengungsi Rohingya pada Mei 2015, dan menilik deklarasi Bali Process tahun 2016, maka Indonesia juga dapat mengambil berperan penting dalam melakukan komunikasi dan penyelesaian masalah dari akarnya yaitu konflik bersenjata yang berkepanjangan di Sri Lanka. Hal ini juga dipandang oleh SUAKA sebagai manifestasi Indonesia dalam melaksanakan ketertiban dunia dan perdamaian abadi, sesuai dengan Pembukaan UUD ‘45.

‘Jika Indonesia menangani dengan baik pengungsi Tamil, maka hal tersebut juga akan mengikis stigma yang diterima oleh Indonesia tentang diskriminasi penanganan pengungsi karena basis agama,’ imbuh Febi.

‘Oleh karenanya menjadi penting bagi Indonesia, mengingat reputasi yang sudah dibangun atas krisis Rohingya di tahun 2015, untuk menerima mereka dengan positif, konstruktif, non-diskriminatif dan dengan tangan terbuka,’ tutupnya.*

Mengecam Pernyataan Menkopolhukam tentang Pencari Suaka sebagai Komoditas Diplomatik!

SUAKA, sebuah jaringan masyarakat sipil untuk advokasi hak-hak pengungsi dan pencari suaka, menyesalkan pernyataan Mekopolhukam yang seakan-akan menjadikan pencari suaka/pengungsi sebagai dagangan politik di saat konflik Indonesia dan Australia terjadi. Dalam sebuah pernyataanna, Menteri Menkopolhukam, Tedjo Edhy Purdijatno, mengancam akan melepaskan 10.000 pencari suaka bila Australia terus bersikap tak bersahabat terhadap eksekusi mati terpidana Bali nine.

Read more

Protection at Sea – Indonesia: Saransika’s Story

With the UNHCR hosting it’s annual High-Commissioner’s Dialogue on “Protection At Sea” over 10-11 December 2014, they have prepared stories from refugees and asylum seekers sharing their experiences about why they had to flee by boat.

Saransika, a young Sri Lankan girl currently in Indonesia says:

“What happened to me and my family should not happen to others”.

It’s such a tragic story but we encourage you to share it with your friends on social media so they understand that people take these dangerous boat journeys because there are no safe pathways to protection available to them:

Stop the Immigration Detention of Children! Hentikan Detensi Imigrasi terhadap Anak-anak!

Kebebasan Seorang Anak adalah Hak Asasi Manusia

infografis-EIDC-web1

Komite Hak-hak Anak PBB, Laporan 2012 pada Diskusi Umum Hak-hak Anak dalam konteks Migrasi Internasional:

“Seorang anak tidak boleh dikriminalisasi atau dikenakan tindakan hukuman karena status migrasi mereka atau orang tua mereka. Negara harus segera dan sepenuhnya menghentikan penahanan anak-anak berdasarkan status imigrasi mereka.” (paragraf 78)

UN Committee on the Rights of the Child, Report of the 2012 Day of General Discussion on the Rights of All Children in the Context of International Migration:

“Children should not be criminalized or subject to punitive measures because of their or their parents’ migration status. States should expeditiously and completely cease the detention of children on the basis of their immigration status.” (para. 78)

Suaka Facebook / End Child Detention Facebook