Skip to content

Rilis Pers SUAKA: Kasus Pengungsi Menjadi Gigolo di Batam Murni Kriminalitas

Unduh rilis pers ini

Download this release in English

Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM RI mengamankan 10 pria pencari suaka yang diduga gigolo di Batam. Pihak imigrasi menyatakan bahwa para pelaku menyalahgunakan sertifikat pencari suaka yang diterbitkan oleh UNHCR untuk melakukan tindak pidana tersebut karena mereka tak lagi tinggal di Rumah Detensi Imigrasi atau berada di bawah tanggung jawab UNHCR dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

SUAKA sangat menyayangkan pernyataan Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Ronny Franky Sompie yang menyatakan akan melakukan pendeportasian terhadap para pengungsi yang terlibat dalam kasus ini.

Indonesia sebagai anggota komunitas masyarakat internasional dan juga anggota PBB terikat dengan International Customary Law, yaitu Prinsip Non-Refoulement. Prinsip ini menyatakan bahwa suatu negara tidak boleh mengusir atau mengembalikan seorang pengungsi, dengan cara apapun, ke perbatasan wilayah negara yang akan mengancam kehidupan maupun kebebasan pengungsi.

“Kami menilai bahwa peristiwa ini murni kriminalitas dan tidak ada kaitannya apakah sang pelaku merupakan pencari suaka atau bukan. Pihak keimigrasian dan polisi hendaknya menangani kasus ini secara hati-hati agar tidak sampai melekatkan stigma kepada pencari suaka atau pengungsi lainnya yang sedang mencari perlindungan di Indonesia,” ujar Febi Yonesta, koordinator SUAKA, Jaringan Masyarakat Sipil Indonesia untuk Perlindungan Hak Pencari Suaka dan Pengungsi, LSM Indonesia yang aktif mengadvokasi hak pengungsi internasional.

“Para pencari suaka atau pengungsi adalah orang yang menghadapi masa berat di negaranya masing-masing. Mereka merupakan korban persekusi yang didasarkan pada SARA dan persekusi tersebut dilakukan baik oleh pemerintahnya atau kelompok lain di negara asal mereka. Mereka dilindungi oleh ketentuan hukum internasional dan setiap negara penerima wajib melindungi hak mereka,” ujarnya lagi.

“Pencari suaka dan pengungsi juga kerap mengalami himpitan ekonomi dan menghadapi banyak kesulitan di negara yang menampung mereka karena banyak negara, salah satunya Indonesia, belum mengakui hak-hak mereka sebagaimana diatur di dalam Konvensi Pengungsi Tahun 1951. Indonesia belum meratifikasi ketentuan internasional tersebut. Inilah sebabnya mengapa para pencari suaka dan pengungsi, terutama mereka yang berusia anak, rentan menjadi korban kriminalitas dan eksploitasi perdagangan orang,” pungkas Alldo Fellix Januardy, pengacara pengungsi internasional SUAKA.

Perlu dicatat, pelaku eksploitasi dan kekerasan seksual terhadap anak dapat dijerat sanksi pidana selama maksimal 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) berdasarkan ketentuan Pasal 88 dan Pasal 76I Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Kasus ini juga harus dijadikan pijakan bagi pemerintah untuk memperkuat regulasi yang berkaitan dengan perlindungan pencari suaka dan pengungsi di Indonesia. Jangan sampai ada anak-anak pencari suaka atau pengungsi lain menjadi korban eksploitasi di masa depan,” tambah Alldo Fellix Januardy.

“Seluruh pelaku kejahatan, baik itu pencari suaka atau bukan, tetap harus diproses hukum, tetapi negara tetap wajib melaksanakan kewajibannya berdasarkan ketentuan hukum internasional untuk melindungi para pencari suaka dan pengungsi di Indonesia. Jangan sampai kasus ini justru menjadi sarana untuk menstigmatisasi mereka,” tutup Febi Yonesta.

Rilis Pers SUAKA: Pengungsi Butuh Perlindungan, Bukan Detensi

Jakarta, 18 Agustus 2016

08/R/SUAKA-CPG/VI/2016

Rilis Pers

PENGUNGSI BUTUH PERLINDUNGAN, BUKAN DETENSI 

SUAKA, kelompok masyarakat sipil yang bekerja pada isu perlindungan pencari suaka dan pengungsi, menyayangkan pernyataan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly terkait permintaannya kepada Australia untuk membangun rumah detensi lebih banyak lagi dalam rangka penanganan pengungsi. 

Pernyataan Menteri Yasonna terkait hal ini kami dapatkan salah satunya dari berita yang diterbitkan oleh The Jakarta Post yang berjudul “RI tells Australia it’s overwhelmed by refugees” tertanggal 10 Agustus 2016. Dalam pemberitaan tersebut, terlihat bahwa pemahaman Menteri Yasonna terkait penanganan pengungsi didasarkan pada fakta yang salah.

Terkait pernyataannya bahwa jumlah pengungsi yang datang ke Indonesia bertambah terus dengan cepat setiap tahunnya. Menurut data UNHCR Indonesia, benar terjadi kenaikan jumlah pengungsi yang datang ke Indonesia pada tahun 2012 dan 2013. Namun, pada tahun 2014 dan 2015 angka kedatangan ini menurun. Hingga bulan Juni 2016 saja, ada sebanyak 1.321 pengungsi yang masuk, yang mana merupakan penurunan 50% dari dari 2015.

Kami menyayangkan kenyataan bahwa Menteri Yasonna secara tidak langsung menyiratkan kekaguman pada Australia dalam penanganan pengungsi mereka. Kami ingin mengingatkan beliau bahwa penanganan pengungsi di Australia adalah salah satu yang terburuk dan paling banyak dikecam di dunia saat ini. Terlebih lagi dengan beredarnya Nauru files, dimana terdapat 2.000 lebih laporan terkait detil kekerasan fisik, kekerasan seksual, penyiksaan, keadaan hidup yang sangat buruk serta lainnya di Pulau Nauru, salah satu tempat detensi milik Australia.

Rumah detensi di seluruh Indonesia sudah tidak muat lagi menampung pencari suaka dan pengungsi semata-mata karena salah penanganan. Seharusnya mereka dibiarkan untuk bekerja secara informal, bersama dengan penduduk Indonesia. “Secara kemanusiaan, sangat tidak pantas bagi negara ini untuk memenjarakan orang-orang yang sedang kabur dari negaranya demi keselamatan nyawa. Seharusnya kita menyambut dan memberikan perlindungan bagi mereka, dan bukan mengkriminalkan serta mengurung mereka.”  ujar Febi Yonesta, Ketua SUAKA.

Perlakuan pemerintah terhadap pencari suaka dan pengungsi dengan memenjarakan mereka sebenarnya melanggar konstitusi negara ini sendiri dan Undang-undang tentang HAM. Draft Peraturan Presiden yang khusus mengatur mengenai tata cara penanganan pengungsi sudah ada, dan sudah bertahun-tahun didiamkan. Untuk itu kami mendesak kepada Presiden Joko Widodo supaya segera mengesahkan Peraturan Presiden tersebut.*

 

Unduh Rilis Pers SUAKA: Pengungsi Butuh Perlindungan, Bukan Detensi

Happy EID Holiday!

May this holiday be the moment to embrace togetherness and forgiveness. Always be kind to each other. Have a blessed Eid 1 Syawal 1437 Hijriah, to all our friends and colleague.

Suaka Happy Eid

World Refugee Day 2016: Berjabat Tangan #BersamaPengungsi untuk Indonesia yang Berkemanusiaan

(Selasa, 21/6) Di Hari Pengungsi Se-Dunia atau World Refugee Day 2016, problematika pengungsi belum kunjung selesai, jumlah pengungsi dan pencari suaka di dunia tiap tahun semakin meningkat. Kepala Perwakilan  UNHCR Indonesia, Thomas Vargas menyatakan bahwa sekurang-kurangnya terdapat 3.8 juta pengungsi di dalam wilayah Asia Pasifik. Sedangkan, menurut data UNHCR Indonesia, jumlah pencari suaka dan pengungsi di Indonesia sebanyak 13.679 orang. Sampai dengan akhir Januari 2016, sebanyak 7.616 pencari suaka terdaftar di UNHCR Jakarta secara kumulatif dari Afghanistan (50%), Somalia (10%) dan Myanmar (5%). Sementara sejumlah 6,063 pengungsi terdaftar di UNHCR Jakarta dari Afghanistan (49%), Myanmar (11%), dan Somalia (8%). Para pengungsi dan pencari suaka di Indonesia tersebar di beberapa kota di Indonesia, seperti Medan,Pekanbaru, Jakarta dan juga kamp-kamp pengungsi di Timbang Langsa dan Bayeun, Aceh Timur.

Tahun ini, tema utama UNHCR dalam perayaan World Refugee Day 2016 adalah tanda pagar #withrefugees atau #bersamapengungsi. Senada dengan hal tersebut, SUAKA — sebuah jaringan masyarakat sipil sukarela yang beranggotakan LBH Jakarta, Human Rights Working Group (HRWG), dan individu-individu – merayakan World Refugee Day 2016 melalui acara Festival Budaya dan dengan konsep “Berjabat Tangan” di Gedung LBH Jakarta, Jl. Diponegoro No. 74, Menteng, Jakarta Pusat.

“Konsep ini kami buat sengaja untuk menciptakan ruang bertemu yang positif, tanpa hal-hal yang berbau politis, antara masyarakat Indonesia dengan para pengungsi lintas batas,” ujar Zico Pestalozzi, ketua acara yang juga Koordinator Kampanye SUAKA.

 

Festival Budaya

Mozghan 4

Pertunjukan musik tradisional dari komunitas pengungsi asal Iran. Foto: SUAKA.

Acara Festival Budaya ini dipilih agar para pengunjung/publik dapat mengenal lebih dalam komunitas-komunitas pengungsi yang ada di Indonesia. Perwakilan komunitas pengungsi dipilih berdasarkan angka pengungsi lintas batas terbanyak yang ada di Indonesia. Komunitas pengungsi yang hadir diantaranya: Oromo Community, Roshan Learning Center, AbbaLove, Learning Nest, dan Refugee Learning Center.

Lebih jauh Zico Pestalozzi menjelaskan bahwa “Berkomunikasi dan saling memahami antara masyarakat Indonesia dengan para pengungsi lintas batas ini sangat diperlukan, karena ketidakpahaman itu yang sering membuat percikan konflik di masyarakat.”

Menegaskan hal tersebut Ketua SUAKA Febi Yonesta juga mengatakan bahwa kesenjangan informasi tidak hanya terjadi secara horizontal, tapi juga vertikal.

“Pada praktiknya, banyak badan-badan pemerintahan baik di pusat maupun daerah yang tidak memahami apa itu pengungsi lintas batas. Ini mengakibatkan penanganan yang diberikan tidak tepat sasaran,” ungkapnya

Acara World Refugee Day 2016 berlangsung meriah, para pengungsi dengan sangat antusias menyaksikan pertunjukan seni dan kebudayaan dari para komunitas-komunitas pengungsi. Pertunjukan seni dan kebudayan diantaranya adalah pembacaan puisi, pameran fotografi, menari, drama, dan juga pertunjukan musik etnik (world music) dari lintas kebudayaan yang berbeda.

Selain itu, juga terdapat booth-booth para komunitas untuk menampilkan hasil kerajinan tangan. Kerajinan tangan dihadirkan dalam bentuk bazaar pada booth-booth yang tersedia. Pada booth tersebut para peserta memamerkan dan menjual hasil kerajinan mereka. Sama halnya dengan ragam kuliner. Para pengunjung dapat mencicipi ragam kuliner dari negara-negara asal pengungsi.

 

SUAKA Terima Penghargaan dari UNHCR

SUAKA bersama empat organisasi masyarakat sipil lainnya menerima penghargaan dari UNHCR. Foto dari: UNHCR Website

SUAKA bersama empat organisasi lainnya menerima penghargaan dari UNHCR. Foto: UNHCR Website.

Di tempat terpisah, UNHCR menggelar acara World Refugee Day 2016 di Goethe Institut, Menteng, Jakarta Pusat, 20 Juni 2016. Acara tersebut bertema “We Stand Together #WithRefugees”. Dalam perayaan tersebut, UNHCR memberikan penghargaan kepada lima lembaga yang secara konsisten terus berjuang dalam kerja advokasi dan pemberdayaan para pengungsi serta pencari suaka. Lima lembaga yang menerima penghargaan adalah Komnas HAM, SUAKA, Dompet Dhuafa, PMI, dan Rosan Learning Center. Menurut Thomas Vargas, Penghargaan ini diberikan kepada lembaga yang dinilai berani melawan arus, ditengah semakin meningkatnya intoleransi dan xenophobia, lembaga-lembaga tersebut tetap konsisten memberikan pelayanan terbaik kepada pengungsi.

Suaka sejak 2012 turut aktif mengembangkan sumber daya untuk mendukung perlindungan hak pengungsi di Indonesia. Beberapa masalah yang masih dihadapi oleh SUAKA di masa depan diantaranya kurangnya perlindungan hukum, lamanya masa tunggu untuk proses penempatan ke negara ketiga secara permanen, terbatasnya bantuan kebutuhan dasar (hak atas tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan) dan kondisi Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) yang tidak manusiawi.

Oleh karena itu, melalui momen perayaan World Refugee Day 2016 diharapkan kelompok masyarakat sipil dapat terus mengadvokasi dan memperjuangkan perlindungan bagi pengungsi dan pencari suaka. Pemerintah Republik Indonesia juga diharapkan dapat turut aktif dalam menampung, menangani, dan memberikan bantuan bagi para pengungsi dan pencari suaka demi kemanusiaan lintas batas. (Husni)

#BersamaPengungsi: untuk Indonesia yang Lebih Berkemanusiaan

English translation below

Jakarta, 20/6 –Dengan menggunakan #BersamaPengungsi atau #WithRefugees, SUAKA bersama-sama dengan berbagai komunitas pengungsi lintas batas di Jakarta dan Bogor menyelenggarakan peringatan Hari Pengungsi Dunia yang jatuh setiap tanggal 20 Juni sebagai kampanye untuk mendapat dukungan dan simpati publik Indonesia agar menyambut para pengungsi lintas batas dengan tangan terbuka.

Tanda-pagar #WithRefugees merupakan kampanye terbaru daru UNHCR untuk menggalang dukungan masyarakat untuk mereka yang terpaksa harus pergi meninggalkan rumah dan kampung halamannya demi mendapatkan hidup yang lebih baik dan tanpa ketakutan.

Senada dengan hal itu, SUAKA menggelar peringatan Hari Pengungsi Dunia pada tahun ini dengan konsep ‘berjabat tangan.’ “Konsep ini kami buat sengaja untuk menciptakan ruang bertemu yang positif, tanpa hal-hal yang berbau politis, antara masyarakat Indonesia dengan para pengungsi lintas batas,” ujar Zico Pestalozzi, ketua acara yang juga Koordinator Kampanye SUAKA.

“Berkomunikasi dan saling memahami antara masyarakat Indonesia dengan para pengungsi lintas batas ini sangat diperlukan, karena ketidakpahaman itu yang sering membuat percikan konflik di masyarakat.” lanjutnya.

Menegaskan hal tersebut Ketua SUAKA Febi Yonesta juga mengatakan bahwa kesenjangan informasi tidak hanya terjadi secara horizontal, tapi juga vertikal.

“Pada praktiknya, banyak badan-badan pemerintahan baik di pusat maupun daerah yang tidak memahami apa itu pengungsi lintas batas. Ini mengakibatkan penanganan yang diberikan tidak tepat sasaran,” ungkapnya.

Peringatan Hari Pengungsi Dunia ini melibatkan komunitas pengungsi berkebangsaan Iran, Iraq, Afghanistan dan Oromo (Afrika). Akibat tidak diperbolehkannya pengungsi ini bekerja, para pengungsi lintas batas ini menggantungkan hidup pada tunjangan yang disediakan oleh berbagai organisasi internasional berbasis kemanusiaan di Indonesia dan juga beberapa oleh UNHCR.

Padahal sebagian dari mereka ada yang ahli dibidangnya, seperti IT, desain grafis, fotografi, sistem komputer, dokter bahkan juga pengacara.

“Oleh karena itu, ruang yang kami bangun ini semoga kedepannya bisa menjadi pondasi dalam membangun Indonesia yang lebih berkemanusiaan terhadap sesama umat manusia khususnya pengungsi lintas batas,” tutup Febi.*


Jakarta, 20/6 -World Refugee Days is held on 20 June every year. SUAKA, together with a number of refugee communities in Jakarta and Bogor, came together to plan an event to showcase their cultures to the Indonesian public..

#WithRefugees is UNHCR’s 2016 campaign to garner public support for those who are forced to flee their homes. SUAKA’s event also used #DenganPengungsi, the Indonesian translation.

Zico Pestalozzi, SUAKA’s campaign coordinator, said the concept for the event was ‘shaking hands.’ and was “intended to create a space for positive interactions between Indonesian and refugee communities, without political motives.

“Communicating and mutual understanding between the people of Indonesia and asylum seeker and refugees populations is indispensable, because misunderstanding can create tension or conflict within communities” he said.

SUAKA’s chair, Mr Febi Yonesta, said information gaps occurred vertically as well as horizontally.

“In practice, many governmental agencies at both central and outer areas do not have full understanding of refugees. This can result in improper handling” he said.

SUAKA’s World Refugee Day commemorations involved people from Iran, Iraq, Afghanistan and Ethiopia taking part in events on stage, showing handicrafts and artwork and offering their national foods for all to try.

Asylum seekers and refugees in Indonesia are not entitled to work and must support themselves, while a small percentage receive some support from UNHCR partners IOM, JRS and CWS

People from asylum seeker and refugee communities have many skills including art, IT, teaching, graphic design, photography, clothes making and music. Even doctors and lawyers.

“Therefore, we created this space for everyone to come together and build a strong foundation and a more humane Indonesia towards fellow human beings, especially refugees,” Febi said.

Save

Save

Save

Save