JAKARTA, 22 Januari 2026 – Perkumpulan SUAKA meluncurkan Laporan Lima Tahun (2021–2025) sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas publik atas kerja-kerja perlindungan hak pengungsi dan pencari suaka di Indonesia. Peluncuran laporan ini diselenggarakan pada Kamis, 22 Januari 2026, bertempat di Aula DR. Ir. Soekarno, Universitas Bung Karno, Jakarta Pusat.
Laporan ini memuat refleksi atas kerja advokasi hukum, pendampingan, pemberdayaan hukum, serta upaya penyadaran publik yang dilakukan SUAKA sepanjang periode 2021–2025 di tengah keterbatasan kerangka perlindungan pengungsi di Indonesia. Temuan dalam laporan tersebut juga mencerminkan berbagai tantangan struktural yang masih dihadapi pengungsi dan pencari suaka dalam mengakses hak-hak dasar.
Dalam sambutan pembuka, Ketua Pengurus Perkumpulan SUAKA, Atika Yuanita Paraswaty, menegaskan bahwa peluncuran laporan ini menjadi momen reflektif untuk meninjau kembali mandat dan nilai-nilai yang mendasari kerja-kerja perlindungan pengungsi. “Peluncuran laporan lima tahun ini kami maknai sebagai sebuah jeda reflektif, bukan hanya untuk meninjau capaian, tetapi juga untuk menegaskan kembali mandat dan komitmen kami terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan, non-diskriminasi, serta penghormatan terhadap martabat manusia, khususnya dalam perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia bagi pengungsi dan pencari suaka,” ujar Atika.
Komitmen dari institusi pendidikan tinggi turut disampaikan oleh Rektor Universitas Bung Karno, Dr. Ir. Sri Mumpuni Ngesti Rahaju, M.Si., yang diwakilkan oleh Bapak Franky Paulus S.T. Roring, S.IP., M.Si., selaku Wakil Rektor IV Universitas Bung Karno. Ia menekankan peran strategis perguruan tinggi dalam meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap isu pengungsi. “Sebagai institusi pendidikan tinggi, Universitas Bung Karno memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap nasib pengungsi. Kami meyakini bahwa pendidikan dan penelitian dapat menjadi alat yang kuat untuk meningkatkan kualitas hidup pengungsi serta membantu mereka mencapai potensi terbaiknya,” ujar Bapak Franky.
Ia juga mengajak berbagai pihak untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk kerja sama antara Universitas Bung Karno dan Perkumpulan SUAKA dalam kerangka Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Melalui kerja sama ini, kami berharap dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup pengungsi serta mendukung terciptanya masa depan yang lebih baik bagi mereka,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Emily Bojovic, Senior Protection Officer UNHCR Indonesia, menegaskan pentingnya peran SUAKA dalam memperkuat perlindungan hak-hak pengungsi di Indonesia. “UNHCR menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kerja sama dengan SUAKA dan peran strategisnya dalam memperkuat perlindungan hak-hak pengungsi di Indonesia. Kerja-kerja bantuan hukum, advokasi, dan keterlibatan publik yang dilakukan SUAKA sangat penting untuk memastikan pengungsi dan pencari suaka diperlakukan secara bermartabat serta memperoleh akses terhadap perlindungan dan keadilan,” kata Emily Bojovic.

Memasuki sesi keynote speaker, peluncuran laporan ini turut menghadirkan Prof. Dr. Rumadi Ahmad, M.Ag., Staf Ahli Menteri Hak Asasi Manusia, yang mewakili Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Bapak Natalius Pigai. Ia menekankan bahwa laporan ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumen kelembagaan, tetapi juga sebagai catatan perjalanan kemanusiaan bersama. “Kegiatan peluncuran laporan ini menjadi momentum untuk merekam suara, merekam luka, sekaligus merekam harapan para pengungsi dan pencari suaka di berbagai tempat, khususnya di Indonesia,” ungkap Prof. Rumadi.
Laporan Lima Tahun SUAKA mencatat pendampingan terhadap lebih dari 600 kasus hukum pengungsi dan pencari suaka, penguatan jaringan paralegal berbasis komunitas pengungsi, serta pemantauan kebijakan nasional, khususnya implementasi Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2016 dan berbagai kebijakan berbasis hak asasi manusia di tingkat nasional. Di saat yang sama, laporan ini juga menyoroti penguatan dukungan bagi pengungsi melalui kampanye dan kolaborasi bersama berbagai elemen masyarakat sipil, akademisi, anak muda, serta komunitas pengungsi melalui Refugee-Led Organizations (RLOs) dan Refugee-Led Initiatives (RLIs).
Menyadari kompleksitas tantangan perlindungan pengungsi ke depan, perluasan jejaring dan kolaborasi lintas organisasi menjadi salah satu poin penting yang disoroti dalam peluncuran laporan ini. Direktur Eksekutif SUAKA, Angga Reynady, menegaskan bahwa kondisi di lapangan menuntut keterlibatan berbagai pihak secara berkelanjutan untuk membangun sistem dukungan yang lebih inklusif dan berjangka panjang bagi pengungsi dan pencari suaka di Indonesia.

Agenda ini juga menghadirkan empat penanggap dari beragam latar belakang, yaitu Prof. Tri Nuke Pudjiastuti selaku Peneliti Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fitriah S.H., M.R., Ph.D. selaku akademisi Universitas Islam Negeri Jakarta, Franky Paulus S.T. Roring, S.IP., M.Si. selaku akademisi Universitas Bung Karno, serta Ali Reza Yawari sebagai perwakilan komunitas pengungsi. Keempatnya menekankan pentingnya peran SUAKA ke depan dalam mendorong advokasi kebijakan berbasis hak asasi manusia di tingkat nasional dan internasional, serta memperluas kolaborasi lintas aktor.
Sebagai penutup, SUAKA menegaskan komitmennya untuk terus mengawal perlindungan hak-hak pengungsi dan pencari suaka. Laporan Lima Tahun (2021–2025) diharapkan dapat menjadi pijakan bersama untuk memperkuat kolaborasi lintas pihak serta mendorong kebijakan yang berlandaskan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Laporan 5 tahun dapat diakses pada:
Narahubung
- Angga Reynady – 081949434214
- Annabella Arawinda – 085121230272
Versi dwibahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) dari rilis media ini dapat diunduh melalui file berikut:
The bilingual (Indonesian and English) version of this press release can be downloaded from the following file: