Skip to content

Posts tagged ‘pencari suaka’

Pathways to Refugee Wellbeing, Research on Asylum Seeker and Refugee in Indonesia

Who is conducting this study?

  • The Refugee Trauma and Recovery Program, from the University of New South Wales in Sydney, is working with HOST International, SUAKA and Universitas Gadjah Mada to conduct this study.

Why is the study important?

  • We want to learn about the experiences of refugees, and what kinds of things affect their wellbeing.
  • This will help us understand how refugees cope in their everyday life.
  • This knowledge will help to provide better support for refugees in a similar situation around the world.

Who can take part in this study?

  • Refugee and asylum-seeker adults (18 years +), who are eligible to participate.
  • As the surveys are on-line, you can take part in this study no matter where you live, as long as you have access to the internet. The surveys are in English, Arabic, Farsi, Dari, and Somali.
  • To take part in this study, you will need an email address. If you do not have an email address, you can get one here: (Gmail registration) One person can only use one email address.

What does the study involve?

  • First, we will ask you to register your interest in participating in this study, on our website.
  • Second, we will check if you are eligible to participate.
  • If you are eligible, and you agree to participate in the study, we will invite you to complete an online survey 4 times over 18 months.
  • The questions are about yourself, your experiences, your thoughts and feelings, and about the relationships you have with other people.
  • Each survey takes about one hour to complete.
  • To thank you for sharing your experiences, we will reimburse eligible participants for your time with an Indomaret voucher worth IDR 100,000 after you complete each survey.

What will happen to the information you collect from me?

  • All information provided by participants is highly confidential and is only accessed by the
    research team.
  • Only the UNSW research team and the HOST International Research Coordinator will have access to your personal information (e.g. contact details), so we can contact you for future time points.
  • Your information will not be shared with any service providers, UNHCR, or any
    governments.
  • These details will be stored separately from your survey responses.
  • Participating in this study will not affect the UNHCR process and the resettlement process.
  • You can choose to receive regular updates about the study in your own language.

Follow this link to register: www.rtrp-research.com/pathways-to-refugee-wellbeing-indonesia

 

Protection for refugees in Indonesia: A state responsibility

Refugees in Indonesia have staged many rallies this year. The street hosting the United Nations Refugee Agency (UNHCR) Indonesia, Jl. Kebon Sirih in Central Jakarta, was filled with refugees, requesting protection and a solution to their situation living in limbo for years, particularly from June to August.

Refugee migration is increasing worldwide as a result of civil wars and internal conflicts in various parts of the world. The UN estimates that as of last June, Indonesia had been a host to almost 14,000 refugees and asylum seekers from Afghanistan, Somalia, Iraq, Myanmar, Sudan, etc.

Indonesia has a responsibility as a state in providing protection for refugees and asylum seekers. Indonesia is not a signatory to the 1951 Refugee Convention and its 1967 Protocol. However, is being signatory to the aforementioned conventions the only pre-requisite for a state in providing protection for refugees in Indonesia?

Read more

Rilis Pers SUAKA: Reputasi Indonesia Di Ambang Batas

Unduh rilis pers SUAKA, klik di sini.

Jakarta, Indonesia –Sebuah kapal yang mengangkut empat puluh empat penumpang terapung-apung di perairan Lhoknga, Aceh Besar. Perahu ini bernomor registrasi TN-1-FV-00455.09, yang menurut BBC India, mengisyaratkan bahwa kapal ini berasal dari daerah Tamil Nadu, India.

Kapal ini merupakan kapal yang mengangkut pengungsi etnis Tamil asal Sri Lanka. Sementara itu, tujuan asli para pengungsi ini adalah Pulau Christmas, Australia. Kapal yang mereka tumpangi terpaksa harus berhenti di Lhoknga karena kerusakan pada mesin kapal dan habisnya bahan bakar untuk melanjutkan perjalanan. Meskipun pada kesempatan pertama kapal berhasil dilayarkan dengan bantuan pemerintah dan warga setempat, namun nahas, kapal tersebut kembali mengalami kerusakan dan terdampar di titik yang sama.

‘SUAKA mengapresiasi tindakan yang diambil baik pemerintah pusat maupun daerah yang akhirnya mengijinkan perahu itu merapat ke daratan,’ ujar Febi Yonesta, Ketua SUAKA.

Sebelumnya, perahu tersebut sempat ditolak untuk merapat oleh pemerintah setempat melalui Komandan Rayon Militer (Danramil) Lhoknga Darul Amin. Ia mengatakan bahwa para pengungsi ini tidak diijinkan untuk merapat ke daratan serta ditutup akses untuk ditemui oleh orang lain.

‘SUAKA memperoleh informasi dari lapangan bahwa kondisi mereka sangat perlu untuk diperhatikan,’ lanjutnya. Ia kemudian mengatakan bahwa satu dari para pengungsi tersebut adalah ibu hamil dan sembilan diantaranya adalah anak-anak. ‘Tentunya dua kelompok ini harus diperhatikan dengan seksama, jangan sampai Indonesia melanggar HAM karena membiarkan mereka terapung-apung tanpa perawatan,’ lanjutnya.

SUAKA juga memperhatikan pentingnya akses seluas-luasnya kepada UNHCR untuk dapat mewawancara langsung para pengungsi ini, karena fungsi UNHCR dapat membantu otoritas untuk melegitimasi keberadaan mereka.

Melihat kembali respon positif pemerintah pada gelombang besar pengungsi Rohingya pada Mei 2015, dan menilik deklarasi Bali Process tahun 2016, maka Indonesia juga dapat mengambil berperan penting dalam melakukan komunikasi dan penyelesaian masalah dari akarnya yaitu konflik bersenjata yang berkepanjangan di Sri Lanka. Hal ini juga dipandang oleh SUAKA sebagai manifestasi Indonesia dalam melaksanakan ketertiban dunia dan perdamaian abadi, sesuai dengan Pembukaan UUD ‘45.

‘Jika Indonesia menangani dengan baik pengungsi Tamil, maka hal tersebut juga akan mengikis stigma yang diterima oleh Indonesia tentang diskriminasi penanganan pengungsi karena basis agama,’ imbuh Febi.

‘Oleh karenanya menjadi penting bagi Indonesia, mengingat reputasi yang sudah dibangun atas krisis Rohingya di tahun 2015, untuk menerima mereka dengan positif, konstruktif, non-diskriminatif dan dengan tangan terbuka,’ tutupnya.*

Refugees and Asylum Seekers in Indonesia

[English Translation Below]

Ada sekitar 13.000 pengungsi dan pencari suaka di Indonesia. Indonesia belum menjadi peserta Konvensi 1951 yang terkait dengan Keadaan Pengungsi (Konvensi Pengungsi) atau Protokol 1967. Para pengungsi dan pencari suaka (dan orang yang tidak bernegara) di Indonesia mengalami kesulitan untuk tinggal di negara ini. Mereka tidak mempunyai izin bekerja, dan tidak menerima bantuan sosial dari pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia memperbolehkan para pengungsi dan pencari suaka tersebut untuk tinggal di Indonesia selama mereka memiliki dokumen-dokumen pendaftaran dari Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa Komisaris Tinggi untuk Pengungsi (UNHCR). Read more