Skip to content

Posts tagged ‘Indonesia’

Suaka Press Release: Australian Policy Against Refugee Resettlement Further Complicates Refugee Transit in Indonesia

Jakarta, 20 November 2014 — Suaka, the Indonesian Civil Society Network for Refugee Rights Protection, strongly criticized the anti-resettlement policies issued by the Australian Government targeted at refugees residing in Indonesia. “This policy is clearly contrary to the international obligations of Australia as a party to the 1951 Refugee Convention and increases the uncertainty of the situation for refugees in transit in Indonesia,” said Febionesta, Chair of Suaka.

Read more

Suaka Press Release: Kebijakan Anti Resettlement Australia Semakin Mempersulit Pengungsi Yang Transit di Indonesia

PRESS STATEMENT FOR IMMEDIATE RELEASE

[English Version]

Suaka – Indonesian Civil Society Network for Refugee Rights Protection
c/o HRWG, Human Rights Working Group
Jiwasraya Building Lobby Floor
Jl. R.P Soeroso No 41 Gondangdia, Menteng
Jakarta Pusat 10350, Indonesia

Suaka.Secretariat@gmail.com | suaka.or.id

 

KEBIJAKAN ANTI RESETTLEMENT AUSTRALIA SEMAKIN MEMPERSULIT PENGUNGSI YANG TRANSIT DI INDONESIA

Jakarta, 20 November 2014 Suaka, Jaringan Kerja Masyarakat Sipil Indonesia untuk Perlindungan Hak-hak Pengungsi, mengecam keras kebijakan imigrasi anti resettlement yang baru saja dikeluarkan oleh Pemerintah Australia terhadap para pengungsi yang berada di Indonesia. Kebijakan ini jelas bertentangan dengan kewajiban Internasional Australia selaku negara pihak dari Konvensi Pengungsi 1951 dan mengakibatkan situasi tidak menentu bagi para pengungsi selama transit di Indonesia.

Read more

Perkembangan Isu Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia

Hingga 30 Juni 2014, terdapat 10.116 pengungsi dan pencari suaka yang terdaftar oleh UNHCR di Indonesia, dimana 6.286 orang merupakan pencari suaka dan 3.830 orang merupakan pengungsi. Dari jumlah tersebut, terdapat 7.910 laki-laki dan 2.206 perempuan. Di antara pengungsi dan pencari suaka yang terdaftar, terdapat 2.507 anak-anak dimana 798 di antaranya merupakan anak-anak tanpa pendamping. Afghanistan, Myanmar, Sri Lanka, Pakistan, Iran, dan Irak merupakan negara-negara asal utama para pengungsi dan pencari suaka yang terdapat di Indonesia.

UNHCR melaporkan bahwa terdapat penurunan jumlah pendaftaran sebesar 32% jika membandingkan jumlah pendaftaran dalam enam bulan pertama pada tahun 2014 dengan 2013. Meskipun begitu, masih terdapat hambatan yang signifikan dalam upaya memproses aplikasi-aplikasi untuk Penentuan Status sebagai Pengungsi (Refugee Status Determination/RSD). Data terbaru menunjukkan bahwa terdapat 4.868 individu yang sedang menunggu wawancara pertamanya untuk penentuan status sebagai pengungsi pada akhir Juni 2014. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menunggu antara masa pendaftaran dan sesi wawancara pertama ada selama 8 hingga 19 bulan.

Read more

Update on Refugees and Asylum Seekers in Indonesia

As of 30 June 2014, a total of 10,116 individuals were registered by UNHCR in Indonesia, including 6,286 asylum seekers and 3,830 refugees. Of those, 7,910 were male and 2,206 were female. The total includes 2,507 children; 798 are unaccompanied minors and separated children. The main countries of origin are Afghanistan, Myanmar, Sri Lanka, Pakistan, Iran and Iraq.

UNHCR reported a decrease in the trend of registrations, with 32% fewer registrations in the first six months of 2014 than 2013. However, there continues to be a significant backlog in the processing of applications for Refugee Status Determination. The most recent figures show 4,868 individuals were waiting for their first instance RSD interview at the end of June 2014, and the average waiting period from registration to first instance interview is between 8 and 19 months.

Read more

Peluang Indonesia Menjadi Pemimpin Regional Dalam Perlindungan Pengungsi

[English version] 

Sebagai sebuah negara yang akan memilih presiden baru, Hari Pengungsi Sedunia membuka peluang bagi Indonesia untuk menampilkan masa depan kebijakan luar negeri yang signifikan: perlindungan regional terhadap pengungsi dan pencari suaka serta pencegahan perdagangan orang. Suaka, Jaringan Kerja Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia untuk Perlindungan Hak-Hak Pengungsi mencatat bahwa agar kebijakan tentang ini efektif, harus ada pendekatan berbasis hak yang menempatkan soal perlindungan sebagai pokok diskusi.

Di Asia Tenggara, pertanyaan tentang perlindungan pengungsi menjadi alasan bagi keprihatinan yang mendalam terhadap persekusi kepada minoritas seperti Etnis Rohingya di Myanmar. Melirik agak jauh, krisis yang masih terus berlangsung di Suriah dan situasi yang berkembang di Irak hanyalah dua dari sekian banyak pemicu migrasi paksa yang berdampak pada kawasan.

Read more

%d bloggers like this: