Skip to content

Posts from the ‘Uncategorized’ Category

Happy Holidays and Happy New Year 2017

suaka-greeting-card

Love knows no border. It transcends race, religion, nationality, gender, sexual orientation, political opinion, or other labels that people use to classify others, you name it.

Be kind to each other.

Let start 2017 with love.

Merry Christmas, Happy Holiday and Happy New Year 2017, from us at SUAKA.

Advertisements

Laporan Penelitian SUAKA 2016: Nasib Pengungsi Rohingya di Indonesia

cover-front-web

Sepanjang Juni sampai Oktober 2016, SUAKA melakukan penelitian baseline untuk mendokumentasikan kondisi para pengungsi Rohingya selama berada di Indonesia.

Penelitian ini bertujuan untuk memotret praktek dan pengalaman terbaik dalam penanganan pengungsi, dengan melibatkan para pengungsi Rohingya, para pejabat pemerintahan di tingkat pusat dan daerah, beberapa perwakilan lembaga swadaya masyarakat lokal dan internasional, serta anggota masyarakat di lingkungan sekitar penampungan pengungsi, selaku narasumber.

During June to October 2016, SUAKA conducted baseline research to document the condition of the Rohingya refugees during their stay in Indonesia.

The research is aimed to portray the experiences and best practices in the refugee handling. The research involves Rohingya refugees, national and provincial government officials, international and local NGOs, and the people surround refugee shelters as resource people. The SUAKA researchers conducted interviews and observations in the location of Aceh, Makassar, Medan and Jakarta.

Laporan penelitian ini tersedia, dan dapat diunduh dalam dua bahasa
This report is available, and can be downloaded in two languages

1. Bahasa Indonesia: Laporan Penelitian SUAKA – Rohingya 2016

2. English: SUAKA Research Report – Rohingya 2016

SUAKA Rohingya Research Report Launcing

suaka-launch

SUAKA akan mengadakan peluncuran Laporan Penelitian “Hidup yang Terabaikan” tentang Nasib Pengungsi Rohingya di Indonesia .

Pembicara: Tim Peneliti SUAKA dan Prof. Enny Soeprapto
Moderator: Yunita Purnama – Kepala Divisi Advokasi LBH Jakarta

Senin, 5 Desember 2016
Hotel Gren Alia Prapatan, Kwitang, Senen.
Pukul 12.00 – 16.00

________________

SUAKA will launch “Barely Living” the research report on the condition of Rohingya refugees in Indonesia.

Speaker: SUAKA research team with Prof. Enny Soeprapto

Monday, 5th of December 2016
Hotel Gren Alia Prapatan, Kwitang, Senen
Pukul 12.00 – 16.00

Info lebih lanjut/ For more info:
Sisi – 0852 17822 444

SUAKA Legal Aid Service New Contact Number

We are very sorry for not being active for past weeks, because of technical issue.

Please be informed that SUAKA Legal Aid changed number to 085213508445.

Also, you can still contact us via email through suaka.legalaid@gmail.com.

We would like to ask everyone to inform all people who have contacted us or might need to contact us for help, especially for Asylum Seeker and Refugees in Indonesia since lots of contacts were lost.

We thank you in advance for sharing this simple message to those who might need it!

-SUAKA Legal Aid Team-

Rilis Pers SUAKA: Kasus Pengungsi Menjadi Gigolo di Batam Murni Kriminalitas

Unduh rilis pers ini

Download this release in English

Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM RI mengamankan 10 pria pencari suaka yang diduga gigolo di Batam. Pihak imigrasi menyatakan bahwa para pelaku menyalahgunakan sertifikat pencari suaka yang diterbitkan oleh UNHCR untuk melakukan tindak pidana tersebut karena mereka tak lagi tinggal di Rumah Detensi Imigrasi atau berada di bawah tanggung jawab UNHCR dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

SUAKA sangat menyayangkan pernyataan Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Ronny Franky Sompie yang menyatakan akan melakukan pendeportasian terhadap para pengungsi yang terlibat dalam kasus ini.

Indonesia sebagai anggota komunitas masyarakat internasional dan juga anggota PBB terikat dengan International Customary Law, yaitu Prinsip Non-Refoulement. Prinsip ini menyatakan bahwa suatu negara tidak boleh mengusir atau mengembalikan seorang pengungsi, dengan cara apapun, ke perbatasan wilayah negara yang akan mengancam kehidupan maupun kebebasan pengungsi.

“Kami menilai bahwa peristiwa ini murni kriminalitas dan tidak ada kaitannya apakah sang pelaku merupakan pencari suaka atau bukan. Pihak keimigrasian dan polisi hendaknya menangani kasus ini secara hati-hati agar tidak sampai melekatkan stigma kepada pencari suaka atau pengungsi lainnya yang sedang mencari perlindungan di Indonesia,” ujar Febi Yonesta, koordinator SUAKA, Jaringan Masyarakat Sipil Indonesia untuk Perlindungan Hak Pencari Suaka dan Pengungsi, LSM Indonesia yang aktif mengadvokasi hak pengungsi internasional.

“Para pencari suaka atau pengungsi adalah orang yang menghadapi masa berat di negaranya masing-masing. Mereka merupakan korban persekusi yang didasarkan pada SARA dan persekusi tersebut dilakukan baik oleh pemerintahnya atau kelompok lain di negara asal mereka. Mereka dilindungi oleh ketentuan hukum internasional dan setiap negara penerima wajib melindungi hak mereka,” ujarnya lagi.

“Pencari suaka dan pengungsi juga kerap mengalami himpitan ekonomi dan menghadapi banyak kesulitan di negara yang menampung mereka karena banyak negara, salah satunya Indonesia, belum mengakui hak-hak mereka sebagaimana diatur di dalam Konvensi Pengungsi Tahun 1951. Indonesia belum meratifikasi ketentuan internasional tersebut. Inilah sebabnya mengapa para pencari suaka dan pengungsi, terutama mereka yang berusia anak, rentan menjadi korban kriminalitas dan eksploitasi perdagangan orang,” pungkas Alldo Fellix Januardy, pengacara pengungsi internasional SUAKA.

Perlu dicatat, pelaku eksploitasi dan kekerasan seksual terhadap anak dapat dijerat sanksi pidana selama maksimal 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) berdasarkan ketentuan Pasal 88 dan Pasal 76I Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Kasus ini juga harus dijadikan pijakan bagi pemerintah untuk memperkuat regulasi yang berkaitan dengan perlindungan pencari suaka dan pengungsi di Indonesia. Jangan sampai ada anak-anak pencari suaka atau pengungsi lain menjadi korban eksploitasi di masa depan,” tambah Alldo Fellix Januardy.

“Seluruh pelaku kejahatan, baik itu pencari suaka atau bukan, tetap harus diproses hukum, tetapi negara tetap wajib melaksanakan kewajibannya berdasarkan ketentuan hukum internasional untuk melindungi para pencari suaka dan pengungsi di Indonesia. Jangan sampai kasus ini justru menjadi sarana untuk menstigmatisasi mereka,” tutup Febi Yonesta.

%d bloggers like this: