Skip to content

Posts from the ‘News’ Category

‘Impossible to self-isolate,’ Refugees in Indonesia Fear Coronavirus Outbreak

COMMENT: ‘Impossible to self-isolate,’ Refugees in Indonesia fear coronavirus outbreak.

Written by JN Joniad.

He is a Rohingya refugee living in Indonesia after attempting to flee Myanmar for Australia in 2013. He is now witnessing Indonesia’s large refugee and asylum seeker population battle with the coronavirus pandemic.

“For thousands of refugees and asylum seekers in Indonesia, it is impossible to keep any social distance.

There are over 14,000 refugees and asylum seekers living in limbo in Indonesia, with thousands having fled their country to seek refuge in Australia, only to be stranded there in transit. They are now at a greater risk of contracting COVID-19.  

In Jakarta, many refugees and asylum seekers share rooms and cramped apartments. Those in International Organisation for Migration (IOM) accommodation and camps live in overcrowded conditions. 

It is almost impossible for them to practice social distancing. With no basic rights to work, travel and use public health services, refugees and asylum seekers are further marginalised and the most vulnerable to the spread of coronavirus. “

Read the full article in https://www.sbs.com.au/news/dateline/comment-impossible-to-self-isolate-refugees-in-indonesia-fear-coronavirus-outbreak

Disclaimer: The views, information, or opinions expressed in the article above are solely those of the individuals involved and do not necessarily represent official views nor stance those of Perkumpulan SUAKA members. SUAKA is not responsible and does not verify for accuracy any of the information contained in the article above. The primary purpose of sharing the article above is to inform and provide alternative perspectives, with the end goal to provide comprehensive and holistic solutions for refugee rights protection.

Protection for refugees in Indonesia: A state responsibility

Refugees in Indonesia have staged many rallies this year. The street hosting the United Nations Refugee Agency (UNHCR) Indonesia, Jl. Kebon Sirih in Central Jakarta, was filled with refugees, requesting protection and a solution to their situation living in limbo for years, particularly from June to August.

Refugee migration is increasing worldwide as a result of civil wars and internal conflicts in various parts of the world. The UN estimates that as of last June, Indonesia had been a host to almost 14,000 refugees and asylum seekers from Afghanistan, Somalia, Iraq, Myanmar, Sudan, etc.

Indonesia has a responsibility as a state in providing protection for refugees and asylum seekers. Indonesia is not a signatory to the 1951 Refugee Convention and its 1967 Protocol. However, is being signatory to the aforementioned conventions the only pre-requisite for a state in providing protection for refugees in Indonesia?

Read more

World Refugee Day 2016: Berjabat Tangan #BersamaPengungsi untuk Indonesia yang Berkemanusiaan

(Selasa, 21/6) Di Hari Pengungsi Se-Dunia atau World Refugee Day 2016, problematika pengungsi belum kunjung selesai, jumlah pengungsi dan pencari suaka di dunia tiap tahun semakin meningkat. Kepala Perwakilan  UNHCR Indonesia, Thomas Vargas menyatakan bahwa sekurang-kurangnya terdapat 3.8 juta pengungsi di dalam wilayah Asia Pasifik. Sedangkan, menurut data UNHCR Indonesia, jumlah pencari suaka dan pengungsi di Indonesia sebanyak 13.679 orang. Sampai dengan akhir Januari 2016, sebanyak 7.616 pencari suaka terdaftar di UNHCR Jakarta secara kumulatif dari Afghanistan (50%), Somalia (10%) dan Myanmar (5%). Sementara sejumlah 6,063 pengungsi terdaftar di UNHCR Jakarta dari Afghanistan (49%), Myanmar (11%), dan Somalia (8%). Para pengungsi dan pencari suaka di Indonesia tersebar di beberapa kota di Indonesia, seperti Medan,Pekanbaru, Jakarta dan juga kamp-kamp pengungsi di Timbang Langsa dan Bayeun, Aceh Timur.

Tahun ini, tema utama UNHCR dalam perayaan World Refugee Day 2016 adalah tanda pagar #withrefugees atau #bersamapengungsi. Senada dengan hal tersebut, SUAKA — sebuah jaringan masyarakat sipil sukarela yang beranggotakan LBH Jakarta, Human Rights Working Group (HRWG), dan individu-individu – merayakan World Refugee Day 2016 melalui acara Festival Budaya dan dengan konsep “Berjabat Tangan” di Gedung LBH Jakarta, Jl. Diponegoro No. 74, Menteng, Jakarta Pusat.

“Konsep ini kami buat sengaja untuk menciptakan ruang bertemu yang positif, tanpa hal-hal yang berbau politis, antara masyarakat Indonesia dengan para pengungsi lintas batas,” ujar Zico Pestalozzi, ketua acara yang juga Koordinator Kampanye SUAKA.

 

Festival Budaya

Mozghan 4

Pertunjukan musik tradisional dari komunitas pengungsi asal Iran. Foto: SUAKA.

Acara Festival Budaya ini dipilih agar para pengunjung/publik dapat mengenal lebih dalam komunitas-komunitas pengungsi yang ada di Indonesia. Perwakilan komunitas pengungsi dipilih berdasarkan angka pengungsi lintas batas terbanyak yang ada di Indonesia. Komunitas pengungsi yang hadir diantaranya: Oromo Community, Roshan Learning Center, AbbaLove, Learning Nest, dan Refugee Learning Center.

Lebih jauh Zico Pestalozzi menjelaskan bahwa “Berkomunikasi dan saling memahami antara masyarakat Indonesia dengan para pengungsi lintas batas ini sangat diperlukan, karena ketidakpahaman itu yang sering membuat percikan konflik di masyarakat.”

Menegaskan hal tersebut Ketua SUAKA Febi Yonesta juga mengatakan bahwa kesenjangan informasi tidak hanya terjadi secara horizontal, tapi juga vertikal.

“Pada praktiknya, banyak badan-badan pemerintahan baik di pusat maupun daerah yang tidak memahami apa itu pengungsi lintas batas. Ini mengakibatkan penanganan yang diberikan tidak tepat sasaran,” ungkapnya

Acara World Refugee Day 2016 berlangsung meriah, para pengungsi dengan sangat antusias menyaksikan pertunjukan seni dan kebudayaan dari para komunitas-komunitas pengungsi. Pertunjukan seni dan kebudayan diantaranya adalah pembacaan puisi, pameran fotografi, menari, drama, dan juga pertunjukan musik etnik (world music) dari lintas kebudayaan yang berbeda.

Selain itu, juga terdapat booth-booth para komunitas untuk menampilkan hasil kerajinan tangan. Kerajinan tangan dihadirkan dalam bentuk bazaar pada booth-booth yang tersedia. Pada booth tersebut para peserta memamerkan dan menjual hasil kerajinan mereka. Sama halnya dengan ragam kuliner. Para pengunjung dapat mencicipi ragam kuliner dari negara-negara asal pengungsi.

 

SUAKA Terima Penghargaan dari UNHCR

SUAKA bersama empat organisasi masyarakat sipil lainnya menerima penghargaan dari UNHCR. Foto dari: UNHCR Website

SUAKA bersama empat organisasi lainnya menerima penghargaan dari UNHCR. Foto: UNHCR Website.

Di tempat terpisah, UNHCR menggelar acara World Refugee Day 2016 di Goethe Institut, Menteng, Jakarta Pusat, 20 Juni 2016. Acara tersebut bertema “We Stand Together #WithRefugees”. Dalam perayaan tersebut, UNHCR memberikan penghargaan kepada lima lembaga yang secara konsisten terus berjuang dalam kerja advokasi dan pemberdayaan para pengungsi serta pencari suaka. Lima lembaga yang menerima penghargaan adalah Komnas HAM, SUAKA, Dompet Dhuafa, PMI, dan Rosan Learning Center. Menurut Thomas Vargas, Penghargaan ini diberikan kepada lembaga yang dinilai berani melawan arus, ditengah semakin meningkatnya intoleransi dan xenophobia, lembaga-lembaga tersebut tetap konsisten memberikan pelayanan terbaik kepada pengungsi.

Suaka sejak 2012 turut aktif mengembangkan sumber daya untuk mendukung perlindungan hak pengungsi di Indonesia. Beberapa masalah yang masih dihadapi oleh SUAKA di masa depan diantaranya kurangnya perlindungan hukum, lamanya masa tunggu untuk proses penempatan ke negara ketiga secara permanen, terbatasnya bantuan kebutuhan dasar (hak atas tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan) dan kondisi Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) yang tidak manusiawi.

Oleh karena itu, melalui momen perayaan World Refugee Day 2016 diharapkan kelompok masyarakat sipil dapat terus mengadvokasi dan memperjuangkan perlindungan bagi pengungsi dan pencari suaka. Pemerintah Republik Indonesia juga diharapkan dapat turut aktif dalam menampung, menangani, dan memberikan bantuan bagi para pengungsi dan pencari suaka demi kemanusiaan lintas batas. (Husni)

#BersamaPengungsi: untuk Indonesia yang Lebih Berkemanusiaan

English translation below

Jakarta, 20/6 –Dengan menggunakan #BersamaPengungsi atau #WithRefugees, SUAKA bersama-sama dengan berbagai komunitas pengungsi lintas batas di Jakarta dan Bogor menyelenggarakan peringatan Hari Pengungsi Dunia yang jatuh setiap tanggal 20 Juni sebagai kampanye untuk mendapat dukungan dan simpati publik Indonesia agar menyambut para pengungsi lintas batas dengan tangan terbuka.

Tanda-pagar #WithRefugees merupakan kampanye terbaru daru UNHCR untuk menggalang dukungan masyarakat untuk mereka yang terpaksa harus pergi meninggalkan rumah dan kampung halamannya demi mendapatkan hidup yang lebih baik dan tanpa ketakutan.

Senada dengan hal itu, SUAKA menggelar peringatan Hari Pengungsi Dunia pada tahun ini dengan konsep ‘berjabat tangan.’ “Konsep ini kami buat sengaja untuk menciptakan ruang bertemu yang positif, tanpa hal-hal yang berbau politis, antara masyarakat Indonesia dengan para pengungsi lintas batas,” ujar Zico Pestalozzi, ketua acara yang juga Koordinator Kampanye SUAKA.

“Berkomunikasi dan saling memahami antara masyarakat Indonesia dengan para pengungsi lintas batas ini sangat diperlukan, karena ketidakpahaman itu yang sering membuat percikan konflik di masyarakat.” lanjutnya.

Menegaskan hal tersebut Ketua SUAKA Febi Yonesta juga mengatakan bahwa kesenjangan informasi tidak hanya terjadi secara horizontal, tapi juga vertikal.

“Pada praktiknya, banyak badan-badan pemerintahan baik di pusat maupun daerah yang tidak memahami apa itu pengungsi lintas batas. Ini mengakibatkan penanganan yang diberikan tidak tepat sasaran,” ungkapnya.

Peringatan Hari Pengungsi Dunia ini melibatkan komunitas pengungsi berkebangsaan Iran, Iraq, Afghanistan dan Oromo (Afrika). Akibat tidak diperbolehkannya pengungsi ini bekerja, para pengungsi lintas batas ini menggantungkan hidup pada tunjangan yang disediakan oleh berbagai organisasi internasional berbasis kemanusiaan di Indonesia dan juga beberapa oleh UNHCR.

Padahal sebagian dari mereka ada yang ahli dibidangnya, seperti IT, desain grafis, fotografi, sistem komputer, dokter bahkan juga pengacara.

“Oleh karena itu, ruang yang kami bangun ini semoga kedepannya bisa menjadi pondasi dalam membangun Indonesia yang lebih berkemanusiaan terhadap sesama umat manusia khususnya pengungsi lintas batas,” tutup Febi.*


Jakarta, 20/6 -World Refugee Days is held on 20 June every year. SUAKA, together with a number of refugee communities in Jakarta and Bogor, came together to plan an event to showcase their cultures to the Indonesian public..

#WithRefugees is UNHCR’s 2016 campaign to garner public support for those who are forced to flee their homes. SUAKA’s event also used #DenganPengungsi, the Indonesian translation.

Zico Pestalozzi, SUAKA’s campaign coordinator, said the concept for the event was ‘shaking hands.’ and was “intended to create a space for positive interactions between Indonesian and refugee communities, without political motives.

“Communicating and mutual understanding between the people of Indonesia and asylum seeker and refugees populations is indispensable, because misunderstanding can create tension or conflict within communities” he said.

SUAKA’s chair, Mr Febi Yonesta, said information gaps occurred vertically as well as horizontally.

“In practice, many governmental agencies at both central and outer areas do not have full understanding of refugees. This can result in improper handling” he said.

SUAKA’s World Refugee Day commemorations involved people from Iran, Iraq, Afghanistan and Ethiopia taking part in events on stage, showing handicrafts and artwork and offering their national foods for all to try.

Asylum seekers and refugees in Indonesia are not entitled to work and must support themselves, while a small percentage receive some support from UNHCR partners IOM, JRS and CWS

People from asylum seeker and refugee communities have many skills including art, IT, teaching, graphic design, photography, clothes making and music. Even doctors and lawyers.

“Therefore, we created this space for everyone to come together and build a strong foundation and a more humane Indonesia towards fellow human beings, especially refugees,” Febi said.

Save

Save

Save

Save

Rilis Pers SUAKA: Reputasi Indonesia Di Ambang Batas

Unduh rilis pers SUAKA, klik di sini.

Jakarta, Indonesia –Sebuah kapal yang mengangkut empat puluh empat penumpang terapung-apung di perairan Lhoknga, Aceh Besar. Perahu ini bernomor registrasi TN-1-FV-00455.09, yang menurut BBC India, mengisyaratkan bahwa kapal ini berasal dari daerah Tamil Nadu, India.

Kapal ini merupakan kapal yang mengangkut pengungsi etnis Tamil asal Sri Lanka. Sementara itu, tujuan asli para pengungsi ini adalah Pulau Christmas, Australia. Kapal yang mereka tumpangi terpaksa harus berhenti di Lhoknga karena kerusakan pada mesin kapal dan habisnya bahan bakar untuk melanjutkan perjalanan. Meskipun pada kesempatan pertama kapal berhasil dilayarkan dengan bantuan pemerintah dan warga setempat, namun nahas, kapal tersebut kembali mengalami kerusakan dan terdampar di titik yang sama.

‘SUAKA mengapresiasi tindakan yang diambil baik pemerintah pusat maupun daerah yang akhirnya mengijinkan perahu itu merapat ke daratan,’ ujar Febi Yonesta, Ketua SUAKA.

Sebelumnya, perahu tersebut sempat ditolak untuk merapat oleh pemerintah setempat melalui Komandan Rayon Militer (Danramil) Lhoknga Darul Amin. Ia mengatakan bahwa para pengungsi ini tidak diijinkan untuk merapat ke daratan serta ditutup akses untuk ditemui oleh orang lain.

‘SUAKA memperoleh informasi dari lapangan bahwa kondisi mereka sangat perlu untuk diperhatikan,’ lanjutnya. Ia kemudian mengatakan bahwa satu dari para pengungsi tersebut adalah ibu hamil dan sembilan diantaranya adalah anak-anak. ‘Tentunya dua kelompok ini harus diperhatikan dengan seksama, jangan sampai Indonesia melanggar HAM karena membiarkan mereka terapung-apung tanpa perawatan,’ lanjutnya.

SUAKA juga memperhatikan pentingnya akses seluas-luasnya kepada UNHCR untuk dapat mewawancara langsung para pengungsi ini, karena fungsi UNHCR dapat membantu otoritas untuk melegitimasi keberadaan mereka.

Melihat kembali respon positif pemerintah pada gelombang besar pengungsi Rohingya pada Mei 2015, dan menilik deklarasi Bali Process tahun 2016, maka Indonesia juga dapat mengambil berperan penting dalam melakukan komunikasi dan penyelesaian masalah dari akarnya yaitu konflik bersenjata yang berkepanjangan di Sri Lanka. Hal ini juga dipandang oleh SUAKA sebagai manifestasi Indonesia dalam melaksanakan ketertiban dunia dan perdamaian abadi, sesuai dengan Pembukaan UUD ‘45.

‘Jika Indonesia menangani dengan baik pengungsi Tamil, maka hal tersebut juga akan mengikis stigma yang diterima oleh Indonesia tentang diskriminasi penanganan pengungsi karena basis agama,’ imbuh Febi.

‘Oleh karenanya menjadi penting bagi Indonesia, mengingat reputasi yang sudah dibangun atas krisis Rohingya di tahun 2015, untuk menerima mereka dengan positif, konstruktif, non-diskriminatif dan dengan tangan terbuka,’ tutupnya.*