Skip to content

PRESS RELEASE: Learning from Refugees in Responding to COVID-19

Siaran Pers (Bahasa Indonesia)

English version below

Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada kita WNI, tapi juga para pengungsi luar negeri yang tinggal di Indonesia. Pengungsi yang hidup mandiri banyak yang menggantungkan hidup mereka atas dukungan finansial dari kerabat dan teman maupun organisasi sosial. Tiba-tiba dukungan mereka terhenti dan mereka dapat bertahan dengan sedikit dukungan dari orang-orang di sekitar. Pengungsi tinggal di Indonesia tanpa akses ke mata pencaharian, karenanya menjadi salah satu kendala utama untuk menjadi mandiri. Kondisi ini membuat mereka bergantung pada bantuan dari organisasi sosial yang, pada kenyataannya, tidak dapat menjangkau setiap pengungsi independen di Indonesia.

Sistem Respons COVID-19 Nasional di Indonesia tidak secara khusus menyebutkan pengungsi pada sistem layanan mereka. Karena alasan ini, para pengungsi berada dalam posisi paling rentan dibandingkan dengan penduduk lokal.

Peran pengungsi untuk merespons situasi COVID-19 sangat signifikan. Kisah-kisah mereka menginspirasi dan karya-karya melibatkan kolaborasi dengan masyarakat setempat. Inspirasi ini memicu kami untuk menyajikan diskusi publik: Belajar dari pengungsi dalam menanggapi COVID-19.

Penting bagi Indonesia untuk memiliki kebijakan yang lebih baik terhadap perlindungan pengungsi, terutama karen pengungsi adalah kelompok paling rentan yang tinggal di Indonesia. Alasannya adalah karena mereka tidak memiliki kerangka hukum tertentu yang dapat melindungi hak-hak mereka di Indonesia. Perpres tahun 2016 tentang Pengungsi masih merupakan satu-satunya kerangka hukum yang mengatur secara spesifik tentang pengungsi, tetapi lebih pada aspek administratif, masih kurang dalam aspek perlindungan hak-hak mereka.

Namun demikian, Indonesia telah membuat beberapa kemajuan dalam masalah ini, seperti Perpres 125/2016 tentang Pengungsi dan juga memiliki Satuan Tugas Pengungsi untuk mengoordinasikan mitigasi tentang masalah pengungsi di Indonesia. Apakah cukup? Pemerintah harus dan dapat berbuat lebih banyak. Perlu dicatat bahwa mitigasi pengungsi di Indonesia masih memiliki masalah klasik seperti tumpang tindih kebijakan dan ketidakjelasan koordinasi, terutama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Pemerintah Indonesia harus mengikuti tren global, yaitu inklusi. Indonesia harus lebih melibatkan partisipasi pengungsi untuk berkontribusi terhadap masyarakat tuan rumah mereka. Inklusi ini akan mempromosikan kolaborasi berbasis komunitas, mengatasi perpecahan, dan mempunyai arti lebih terbuka serta memandang secara objektif keterlibatan dalam kegiatan ekonomi.

“Kita tidak bisa menunggu pemerintah kami untuk mengambil tindakan yang cepat tanggap. Masyarakat Indonesia bisa dan sudah mengambil langkah awal dalam mewujudkan inklusi terhadap pengungsi. Jika kita ingat orang yang menyelamatkan perahu Rohingya di Aceh pada 2015, mereka bukan pemerintah, mereka adalah nelayan, yang mengutamakan rasa kemanusiaan, daripada terus memancing untuk mata pencaharian mereka sendiri.” kata Rizka Argadianti, ketua SUAKA ketika merefleksikan krisis pengungsi Rohingya 2015 pada sambutannya.

Inisiatif dari komunitas pengungsi sendiri juga harus diakui. Anggota komunitas yang mampu memahami bahasa Inggris atau bahkan Indonesia membantu anggota komunitas mereka untuk memahami informasi terkait pandemi. Mereka juga tidak mengabaikan masyarakat di sekitar mereka sebagai tetangga.

“Kami tidak pernah melupakan tetangga Indonesia kami, yang juga mengalami kelaparan seperti kami. Berbagi berarti peduli. Kami menunjukkan rasa hormat dan kasih kepada mereka setelah mereka memberi kami kedamaian dan perlindungan.” kata Nimo Ali dari Somalia yang baru belajar apa yang dimaksud Sembako selama COVID-19.

Dia menjelaskan dalam diskusi tersebut bagaimana keterlibatannya dalam pendistribusian Sembako di lingkungan tetangganya selain menyediakan kelas jarak jauh kepada pengungsi perempuan leewat Sisterhood.

Guru dan administrasi Community Learning Center (LC) seperti Refugee Leaning Center bersama 7 LC lainnya di Cisarua, Bogor membantu siswa dan keluarga mereka untuk memahami situasi dan menjaga siswa dengan program akademis mereka melalui pembelajaran jarak jauh, seperti dijelaskan oleh Sikandar Ali, menejer dan kepala sekolah RLC.

Hakmat Zikari yang adalah salah satu pendiri Skilled Migrants and Refugee Technicians (SMART), salah satu dari Inisiatif Berbasis Komunitas, menjelaskan bahwa SMART juga membantu komunitas berbahasa Farsi untuk membuat video pendek atau konten kreatif di media sosial untuk menjembatani hambatan bahasa mereka sembari meninggu dalam period yang tak pasti di Indonesia.

Walaupun banyak orang Indonesia tidak memahami tentang kehidupan pengungsi luar negeri, tapi buat mereka yang paham tentang kesulitan yang dihadapi para pengungsi telah mengkontribusikan upaya mereka untuk menjembatani ketidak tahuan dan pemahana, seperti Realisa Masardi. Dosen Universitas Gajah Mada di Yogyakarta ini pertama kali berinteraksi dengan pengungsi pada 2012 saat melakukan penelitian ilmiah. Saat pandemic Covid19, ia menggalang bantuan untuk didistribusikan kepada komunitas pengungsi di Jakarta dan Cisarua.

Ini adalah pesan yang perlu disebarkan selama peringatan tahun ini untuk Hari Pengungsi Sedunia tahun 2020. “Panelis dalam diskusi ini adalah contoh utama bahwa dengan kolaborasi dan kontribusi dari semua orang, para pengungsi diberdayakan dapat memberikan banyak hal baik kepada tuan rumah mereka komunitas, ke Indonesia ”kata Roswita Kristy dari JRS Indonesia.

Kesempatan untuk mendapatkan peluang dan pengalaman yang sama, kesempatan untuk ambil bagian dan dilibatkan sebagai bagian dari masyarakat adalah penting untuk memastikan bahwa tidak ada yang meninggalkan kemajuan membangun komunitas yang kuat dan bermartabat, dan itu berarti #TermasukPengungsi #RefugeeIncluded

Diskusi ini merupakan hasil kolaborasi antara JRS, SUAKA, LBH Jakarta, HRWG dan Sisterhood dalam rangka Hari Pengungsi Dunia 2020.

Kontak Informasi:

Zico at +6281285000708

Lia at +6281291223615

Koalisi LSM Indonesia untuk Advokasi Hak Asasi Manusia Internasional (HRWG) didirikan oleh mayoritas LSM yang bekerja dalam berbagai masalah tetapi berbagi minat dalam hak asasi manusia untuk melayani kebutuhan akan pekerjaan advokasi. Koalisi ini mempunyai visi untuk memaksimalkan tujuan dan menempatkan lebih banyak tekanan pada pemerintah Indonesia untuk melaksanakan kewajiban internasional dan konstitusionalnya untuk melindungi, memenuhi, menghormati dan mempromosikan hak asasi manusia di negara ini.

Lembaga Bantuan Hukum (disingkat LBH) Jakarta, atau disebut LBH Jakarta, adalah sebuah organisasi masyarakat sipil yang berada di bawah naungan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). LBH Jakarta merupakan lembaga bantuan hukum terbesar di Indonesia dengan akreditasi A yang memberikan bantuan hukum kepada rakyat miskin, buta hukum dan tertindas. Lingkup kerja LBH Jakarta meliputi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Banten.

SUAKA adalah Organisasi Non-Pemerintah asal Indonesia dengan fokus terhadap perlindungan hak pengungsi di Indonesia. SUAKA telah teregistrasi oleh Kementerian Hukum dan HAM di tahun 2019 sebagai perkumpulan. Sejak 2012 bekerja untuk meningkatkan kesadaran tentang situasi rentan yang dialami oleh pencari suaka dan pengungsi di Indonesia. Beberapa organisasi masyarakat sipil dan individu telah berkomitmen untuk mendampingi pengungsi dan pencari suaka untuk mendapat bantuan hukum. Sekarang program SUAKA terdiri dari Bantuan Hukum dan Pembedayaan, Kesadaran Publik serta Penelitian dan Advokasi Kebijakan.

Yayasan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia adalah sebuah lembaga kemanusiaan yang didirikan pada 14 November 1980 sebagai jawaban terhadap penderitaan ‘manusia perahu’ asal Vietnam yang berada di Pulau Galang. Selama 30 tahun terakhir di Indonesia, JRS bersama dengan semua pihak yang peduli, menemani, melayani dan membela hak para pengungsi baik mereka yang ada di kamp pengungsian, kawasan perkotaan maupun di rumah-rumah detensi imigrasi.

RLC adalah community learning center (LC) di cisarua bogor, sudah aktif dari tahun 2015. Salah satu dari 7 LC di Bogor, yang didirikan untuk menjawab kebutuhan akan pendidikan yang belum terpenuhi untuk pengungsi.  Kegiatan utama nya adalah kegiatan belajar mengajar untuk anak usia sekolah sd-sma. jumlah muridnya kurang lebih 150-200 orang, bahkan dengan waiting list yang cukup panjang.

Sisterhood adalah community learning center yang berlokasi di daerah Jakarta Selatan, khusus untuk pengungsi perempuan. Visinya adalah mempunyai tempat beraktivitas dan pemeberdayaan perempuan yang aman dan nyaman.

SMART adalah refugee based inisiative yang mempunyai visi pemberdayaan pengungsi. Dalam SMART tergabung para pengungsi yang mempunyai skill IT maupun multimedia.

Realisa Masardi mempunyai latar belakang akademisi, http://antropologi.fib.ugm.ac.id/profil/staf-pengajar/realisa-darathea-masardi/. Dia juga punya jiwa sosial yang besar, selama dari awal pandemi ini merebak di Indonesia, dia aktif membantu pengungsi yang berdomisili di Jakarta dan Bogor.


Press Release (English)

C0VID-19 pandemic has brought additional problems for the refugees including those who live in Indonesia. Refugees who live independently were used to depend on their life upon the financial support from relatives and friends, but suddenly their support got stopped and they can survive with the meagre amount of support from the people from local societies. Refugees are living in Indonesia without access to livelihood, hence becoming one of the main obstacle to become self-reliant. This condition made them depend on assistances from social organizations which, in fact, could not reach every refugees in Indonesia.

The National COVID-19 Response System in Indonesia did not specifically mention refugees on their services. For these reasons, refugees are placed in the most vulnerable position in comparison with local people.

Refugee roles to respond COVID-19 situation are very significant. Their stories are inspiring and works involve collaboration with the local people. These inspirations are triggering us to present a public discussion: Learning From Refugees in Responding COVID-19.

It is important for Indonesia, as a transit country for refugees, to have a better policy on refugee protection as refugee is among the most vulnerable groups living in Indonesia. Their vulnerability exist due to the fact that they don’t have a specific legal framework that can protect their rights when spending their transit period in Indonesia. Although Indonesia has 2016 Presidential Regulation on Refugee Handling as the only legal framework that regulates specifically on refugee handling, but it is mostly covering only the administrative aspect rather and not rights protection.

Although the issuing of Presidential Regulation No. 125 in 2016 and having Refugee Task Force as a coordinating body on mitigation refugee issues in Indonesia can be considered as a progressive steps. The government should and can do more. It is to be noted that the application of refugee mitigation in Indonesia still faces classical problems such as overlapping policies and passes the buck that usually happen between central government and regional governments.

The government of Indonesia should follow the global trend of inclusivity in handling refugee issues. Indonesia should give more opportunity for refugees to participate and contribute towards their host society. This inclusive attitude would promote community-driven collaboration which could overcome divisions and facilitate economic opportunities for refugees.

“We can’t wait for our government to take a fast-responsive act. No, we can’t. We are stronger than that. If you remember the one who shored Rohingya’s boat in Aceh on 2015, they were not part of the government. They were fishermen who put their sense of humanity first, rather than continuing fishing for their own livelihood.” Rizka Argadianti, chairwoman of Suaka, said in reflecting on 2015 Rohingya Refugee crisis during her opening remarks.

The initiative from refugee community itself should be acknowledged as well. Members of refugee community who are able to understand English or Bahasa Indonesia can help their group to understand circulated information in Indonesia. Matter fact, refugees are not neglecting their local community as their neighbour.

“We never forget our Indonesian neighbours who also experience hunger like us. Sharing is caring. We show them respect and feeling after they give us peace and protection” Nimo Ali from Somalia who have just learned what Sembako means during the COVID-19.

She explained in the discussion on how she was involved in sembako distribution around her neighbourhood besides providing online learning sessions for women refugees through her organization, Sisterhood.

Community learning centers’ (LC) teachers and administrations like Refugee Leaning Center (RLC) along with seven other LCs  have been assisting their students and families to understand the situation and keeping the students with their academics program through distance learning as explained by Sikandar Ali, manager and principle of RLC that is based in Cisarua, Bogor, West Java.

Hakmat Ziraki, co-founder of Skilled Migrants and Refugee Technicians (SMART) as one of the community-based Initiative, explained that SMART has been assisting Farsi-speaker community to make short videos or creative contents in social media to bridge their language barrier while waiting in uncertain period of time in Indonesia.

Though not many of Indonesians understand about refugee life, some who understand about obstacles that are faced by refugees have been contributing their efforts to bridge the lack of knowledge and understanding, namely people like Realisa Masardi. The lecture from Gajah Mada University in Yogyakarta was firstly engaged with refugees in 2012 during her academic research. During covid-19 pandemic, she collected donation to distribute to refugee communities in Jakarta and Cisarua.

It is a message that we need to spread during the commemoration of the World Refugee Day 2020. “The Panellist in this discussion are the ultimate examples that with the collaboration and contribution from everyone, refugees are empowered and could give a lot to their host community, to Indonesia” Roswita Kristy from JRS Indonesia said.

Equal opportunities and experiences, the chance to take part and be involved as a part society is important to make sure that no one is left behind during the progress of building a strong and dignified community, and that means #refugeeincluded.

The discussion was the result of collaboration between JRS, SUAKA, LBH Jakarta, HRWG and Sisterhood to commemorate World Refugee Day 2020.

Contact for further information:

Zico at +6281285000708

Lia at +6281291223615

HRWG is the Indonesia’s NGO Coalition for International Human Rights Advocacy (HRWG) was established by a the majority of NGOs working in different issues but share interest in human rights to serve the need for elaborate advocacy works already in place with the aim of maximizing the goals and putting more pressures on the Indonesian government to execute its international and constitutional obligations to protecting, fulfilling, respecting and promoting human rights in the country.

LBH Jakarta is the Jakarta Legal Aid Institute, or referred to as LBH Jakarta, is a civil society organization under the auspices of the Indonesian Legal Aid Foundation (YLBHI). LBH Jakarta is the largest legal aid institution in Indonesia with A accreditation that provides legal assistance to the poor, law illiterate, and oppressed minority. LBH Jakarta’s scope of work includes Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi and Banten.

SUAKA is a non-governmental organization from Indonesia with a focus on protecting the rights of refugees in Indonesia. SUAKA was registered by the Ministry of Law and Human Rights in 2019 as a society. Since 2012 it has worked to raise awareness about the vulnerable situation experienced by asylum seekers and refugees in Indonesia. Several civil society organizations and individuals have committed to assisting refugees and asylum seekers for legal assistance. Now the SUAKA program consists of Legal Aid and Empowerment, Public Awareness and Policy Research and Advocacy.

Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia Foundation is a humanitarian organization founded on November 14th, 1980, as a response to the plight of Vietnam “boat people” in Galang Island. Over the last 30 years, together with all who have the same concern, JRS accompanied, served, and advocated the rights of refugees both those in the refugee camps, urban areas, as well as in immigration detention centers.

RLC is a community learning center (LC) in Cisarua Bogor that has been active since 2015. It is one of seven LCs in Bogor that was established to answer the unmet needs of education for refugees. The main activity is teaching and learning activities for elementary school-age children. The number of student of RLC is approximately 150-200 people, even with a fairly long waiting list.

Sisterhood is a community learning center located in South Jakarta area, specifically for women and girls refugees. The vision is to have a safe and comfortable place for women’s activities and empowerment.

SMART is a refugee based initiative that has a vision of empowering refugees. SMART consist of refugees who have IT and multimedia skills.

Realisa Masardi has an academic background, http://antropologi.fib.ugm.ac.id/profil/staf-pengajar/realisa-darathea-masardi/. She also has a great social passion, from the beginning of this pandemic spread in Indonesia by actively assisting refugees who live in Jakarta and Bogor.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s