Skip to content

Terminologi Pengungsi di Indonesia

[English Translation Below]

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Konvensi tahun 1951 tentang Status Pengungsi (Konvensi Pengungsi), definisi Pengungsi adalah:

“Seseorang yang karena ketakutan (yang beralasan) akan dianiaya dikarenakan oleh ras, agama, kebangsaan, keanggotaan pada kelompok sosial tertentu atau karena pendapat politiknya dan berada di luar negaranya dan tidak dapat atau, karena kecemasan tersebut tidak mampu mengupayakan perlindungan dari negaranya atau mereka yang tidak memiliki kewarganegaraan dan berada di luar negara bekas tempat tinggalnya sebagai akibat dari alasan-alasan di atas, tidak dapat atau karena ketakutan tersebut, dia tidak dapat (tidak mau) kembali ke negaranya.” (Pasal 1A)

Pencari Suaka adalah istilah umum yang digunakan bagi seseorang yang mengajukan permohonan resmi sebagai Pengungsi ke kantor Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR – United National High Commissioner for Refugees).

Indonesia Bukan Negara Yang Ikut Bagian Dalam Konvensi Pengungsi

Perlindungan hukum dalam negeri dan layanan dukungan bagi pencari suaka masih sangat terbatas. Pada tahun 2009 pemerintah Indonesia menunjukkan niat untuk ikut serta dalam Konvensi Pengungsi, tetapi hal ini belum juga terjadi.

Sejak tahun 1979 Indonesia telah menerima arus pengungsi, ketika ratusan ribu pencari suaka dari Vietnam tiba dengan perahu dan ditempatkan di Pulau Galang sebelum mereka dipindahkan atau dipulangkan ke negara asal mereka. Selama sepuluh tahun terakhir, Indonesia telah menjadi titik transit utama bagi para pencari suaka yang mencoba untuk pergi ke Australia; akibatnya Indonesia memandang dirinya sebagai “korban” dalam hal arus ilegal para pencari suaka yang melalui wilayah Indonesia.

Meskipun setengah dari pengungsi dunia tinggal di daerah perkotaan, layanan bantuan dan perhatian media lebih banyak difokuskan pada pengungsi yang tinggal di kamp-kamp (penampungan). Pengungsi dan pencari suaka di perkotaan sering kali ditempatkan di daerah di mana mereka tidak dapat mengakses infrastruktur yang dibuat oleh Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) untuk mengatasi krisis yang besar, namun tetap memiliki masalah perlindungan yang memaksa mereka meninggalkan negara asal mereka untuk menghindari penganiayaan.

Pencari suaka dan pengungsi, yang transit atau tinggal sementara di Indonesia, datang dari seluruh penjuru dunia. Sejak tahun 2008, tindakan penganiayaan dan meningkatnya kekerasan yang terus menerus di negara asal mereka, serta keterbatasan ketersediaan negara-negara lain dalam menawarkan solusi permanen, telah mengakibatkan peningkatan jumlah pencari suaka dan pengungsi yang signifikan di Indonesia. Diperkirakan pada tahun 2008 hanya ada 400 pencari suaka dan pengungsi di Indonesia; namun pada May 2015, UNHCR melaporkan ada lebih dari 13.000 pencari suaka dan pengungsi yang terdaftar di Indonesia.

Pelajari lebih lanjut:


Refugees and Asylum Seekers in Indonesia

Under the United Nations’ 1951 Convention Relating to the Status of Refugees (Refugees Convention), a refugee is defined as:

“A person who owing to a well-founded fear of being persecuted for reasons of race, religion, nationality, membership of a particular social group or political opinion, is outside the country of his nationality and is unable or, owing to such fear, is unwilling to avail himself of the protection of that country; or who, not having a nationality and being outside the country of his former habitual residence as a result of such events, is unable or, owing to such fear, is unwilling to return to it.” (Article 1A)

An asylum seeker is the common term for a person who has applied to the Office of the United National High Commissioner for Refugees (UNHCR) for official recognition as a refugee.

Indonesia is not party to the Refugees Convention

There are limited domestic legal protections and support services for asylum seekers. The Indonesian government indicated an intention to accede to the Refugees Convention in 2009, but this has yet to occur.

Indonesia has received refugees since 1979, when hundreds of thousands of Vietnamese asylum seekers arriving on boats were facilitated on the Indonesian island of Galang before being resettled or repatriated. However, over the past decade, Indonesia has become a key transit point for asylum seekers attempting to travel to Australia; Indonesia consequently views itself as a “victim” in terms of the unauthorised movement of asylum seekers through the region.

Although half of the world’s refugees live in urban areas, assistance services and media attention are mainly focused on refugees living in camps. Urban refugees and asylum seekers are often located in areas where they are unable to access infrastructure set up by the United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) to deal with major crises, yet nevertheless have protection concerns that forced them to leave their countries of origin to escape persecution.

Asylum seekers and refugees transiting through or living temporarily in Indonesia come from all over the world. Since 2008, continuing persecution and escalating violence in countries of origin, as well as limited availability of countries offering a durable solution, has seen a steady increase in the number of asylum seekers and refugees in Indonesia. It is estimated that there were only 400 asylum seekers and refugees in Indonesia in 2008; on May 2015, UNHCR reported that more than 13,000 registered asylum seekers and refugees in Indonesia.

Learn more:

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s